“Pernah makan urap ??? Sejenis masakan yang terdiri dari berbagai sayuran yang ditaburi kelapa diatasnya… Mungkin ada yang udah familiar ma makanan ini, mayoritas turunan jawa pasti tau jenis makanan ini. Kenapa saya jadi bahas masalah urap ya ? Gara2 dahlan iskan, menteri yang satu ini ternyata suka sama makanan yang namanya urap dalam account twitter’nya.

Makanan sederhana namun menyehatkan. Ada sesuatu yang khusus dengan makanan ini. Ibu saya sering membuatkanya untuk keluarganya. Dulu seh saya memandang sebelah mata dengan makanan yang minimalis ini. Biasanya saya hanya ambil sebagian kecil dari makanan urap yang disediakan ibu saya. (Entah kenapa saya lebih suka sama pecel, gado2 atau makanan sayuran lainnya). Namun ada satu yang bikin urap itu terasa istimewa di mulut saya, saat saya memakannya dirumah nenek saya di solo.

Sebut saya nama desanya weru. Petak rumah kakek nenek saya tak terlalu besar, namun halamannya lumayan luas. Walaupun tak terlalu besar rumahnya, tapi ada kandang sapi didapurnya, lengkap sama sapi2nya hahahah :p. Kalo ditilik2 dari keadaan geografisnya seh, banyak gunung kapur disana. Terbukti dengan banyaknya kolam2 yang menjadi kolam renang alami akibat batu kapur yang terus diambil dan tergenang air saat hujan. (Orang sana menyebutnya dengan “gemblung”). Makanya tak heran orang2 disana pundaknya rada bengkok kebawah, karena rata-rata jadi buruh angkut batu kapur. (Termasuk si bapak tentunya – karena dari kecil beliau suka cari duit sendiri).

Anyway, balik lagi ke soal “urap” tadi. Kenapa rasanya istimewa dibandingkan urap yang dibuat dirumah, saya kira karena diambilnya langsung dari alam, alias “fresh from the nature”. Semuanya sudah disediakan dialam, dihalaman rumah nenek saya sendiri, mulai dari daun singkong, kacapiring, kelapanya. Jadi. Begitu dimakan tu langsung seger ke badan, beda sama sayuran2 yang dibeli dipasar. Itu yang bikin beda. Namanya juga didesa, segala sesuatu disediakan dialam sesuai dengan kesederhanaannya, tanpa mengada2.

Kadang saya berpikir, kualitas hidup orang desa mungkin sedikit lebih baik dibandingkan orang kota. Gimana ga lebih baik, semua yang mereka konsumsi langsung dari alam, tanpa pengawet, tanpa fastfood atau junkfood seperti layaknya dikota. Dengan tingkat stress yang lebih rendah tentunya akan memberikan pengaruh secara tidak langsung ke keberlangsungan jangka waktu hidup orang2 desa. Tanpa adanya polusi, tanpa adanya kemacetan, hubungan sosial yang erat antar sesama penduduk desa. Yah seperti yang selalu saya katakan, tiap2 hal punya positif dan negatif sidenya, tinggal tergantung cara kita menyikapinya saja.

*dan urap nya rumah nenek, masih bisa dirasakan di lidah saya, walaupun nenek dan kakek telah berpulang beberapa tahun yang lalu, dan rumahnya lenggang sekarang :