Seorang teman memutuskan untuk berhenti bekerja di perbankan BUMN no 1 di negeri ini. Setelah 6 tahun 3 bulan, ia merasa jenuh dengan pekerjaan yang ia miliki dan berharap bisa menemukan sumber lain untuk menghiduapi keluarganya. Sebenarnya ia tidak dengan ser ta merta memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Dikala waktu-waktu senggang semasa saya masih sekantor dengannya, ia pernah mengemukakan keinginannya untuk resign dan lebih berkonsentrasi dalam usaha warnet yang ia buat bersama dua orang temannya.

Resign dari kantor ??? sebenarnya bukan masalah besar juga seh menurut saya, hanya saja saat saya memiliki keluarga dengan satu anak, saya akan sangat memikirkan option tersebut. Dengan usaha yang masih belum berkembang besar dan segmentasi di usaha yang pertumbuhannya sudah mengalami kejenuhan pasar, sungguh riskan menurut saya. Pernah saya tawarkan satu alternatif padanya, untuk tidak meninggalkan pekerjaan yang dia miliki saat ini dan tetap menyambi usahanya yang dimiliki saat ini, tapi ybs menolak dengan alasan ia ingin terjun langsung ke usahanya tersebut, termasuk membuat lini usaha baru berupa rental playstasion dan franchise mie ayam.
Menurut saya “usaha adalah sebagian dari perjudian” kenapa begitu ??? ya karena sesuatunya sulit untuk diprediksi. Kita harus punya pemikiran yang tepat dan mampu meramal perkembangan pasar. Bisa saja salah satu usaha memiliki minat konsumen yang banyak pada suatu waktu. Akan tetapi akan menurun saat waktu-waktu tertentu pula. Kalo anak ekonomi pasti pernah belajar yang namanya “Product Life Cycle” yaitu siklus hidup suatu produk, mulai dari recognizion, growth, maturity, decline. Yah usaha juga megalami siklus tersebut. Saya khawatir usaha warnetnya sudah mulai pada tahap decline, sama halnya seperti usaha wartel dulu Meskipun ia baru membuka usaha rental ps dan franchise mie ayamnya.

Sekarang, pertimbangkanlah dia bekerja di bank BUMN tersebut, dengan gaji Rp. 3 jutaan, tunjangan kesehatan anak dan istri, bonus2 pertahun, setidaknya sudah cukup untuk menjamin kehidupan keluarganya. Usaha yang dimilikinya sebenarnya sudah didelegasikan ke pegawai-pegawainya, sehingga tugas ia hanya perlu untuk mensupervisi karyawan-karyawannya saja. Dengan kombinasi usahanya sebagai penghasilan utama dan gaji di perusaahaan sebagai cadangannya, pasti akan lebih aman untuk keadaan finansialnya. Dilema mungkin, pasti semua orang yang bekerja dan memiliki usahanya sendiri pernah setidaknya mengalami hal ini. Menurut sumber yang pernah saya baca, saat kita bekerja dan memiliki usaha sendiri pasti diharuskan harus memilih karena apabila dua-duanya dijalankan, hasilnya tidak akan maksimal. Mungkin itu juga yang dirasakan oleh teman saya.
Suatu langkah yang besar dan beresiko .

Ya, mudah-mudahan jalan yang dipilih teman saya jalan yang tepat untuk dirinya dan keluarganya. Memang jadi pengusaha memiliki keuntungan tersendiri, seperti waktu yang fleksibel sampai ke penghasilan yang tak terbatas. Begitupun jadi karyawan, keadaan finansial bisa terjamin setiap bulannya, pendapatan yang tetap tiap bulannya. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Semuanya berpulang ke pilihan masing-masing. Bukankah hidup memang pilihan . Tinggal bagaimana kita stick terhadap pilihan tersebut dan siap untuk bertanggung jawab terhadap apa yang kita pilih.