Tags

, ,

ada yang aneh mengenai perpisahan dikantor saya terdahulu. berhubung saya resign karena memang sudah tak merasa sehati dengan pekerjaan yan telah saya lakukan yang notabene nya sudah saya lakukan hampir selama tiga tahun terakhir ini.

ada farewell party kecil2an di kantor saya tersebut untuk melepas saya. (saya pun tidak menyangka akan diadakan farewell party tersebut), karena yang ada dibenak saya adalah cepat-cepat membereskan barang-barang di meja kerja saya dan segera berpamitan kepada teman-teman dikantor.

saat dilakukan feedback, salah satu atasan saya mengatakan bahwa integritas saya sebagai seorang analis kredit sangatlah baik dan dengan integritas seperti itu saya tidak akan mendapatkan kesulitan untuk bekerja ditempat baru. selain itu dia menambahkan bahwa saya kurang fleksibel didalam meloloskan calon nasabah kredit dan terlalu berpedoman pada buku (baca – aturan).

kemudian saya berpikir kembali apa yang dikatakan salah satu atasan saya tersebut. saya teringat hampir semua calan nasabah yang direferensikannya saya tolak untuk diproses kreditnya.

saya hanya melakukan tugas saya sesuai dengan wewenang dan kewajiban yang saya miliki. dan saya tidak bermain-main dengan hal itu.

dalam dunia kredit terdapat prinsip-prinsip sbb :

1. character

karakter ini merupakan aspek yang sangat penting. makannya ia ditaro ditempat pertama. lu bisa ja ngasih kredit ke perusahaan yang besar dan labanya menguntungkan, tapi kalo ownernya punya character yang buruk dia bisa aja kagak bayar tu cicilan kreditnya.

untuk tau karakter seseorang baik atau buruk, lu bisa tau saat ngobrol dengan calon nasabahnya. ketauan lah mana orang bener, mana orang mau nipu kita, liat aja dari gesture nya, matanya terutama. kalo dia jujur, dia berani natap mata kita. kalo boong, matanya pasti kemana-mana hahahaha :p.

selain itu ada bi checking ko, yaitu pelaporan dari bank indonesia kalo si calon nasabah ini punya pinjaman dimana aja dan bagaimana kualitas pembayarannya. apkah lancar atau macet.

2. capacity

capacity ini merupakan kapasitas atau kemampuan seseorang dinilai dari usahanya dalam menghasilkan laba untuk memenuhi kewajiban usahanya. diliatnya bisa dari kesesuaian ybs didalam memberikan info berapa omset perbulannya dengan rekap omset dari catatan usahanya atau dari copy buku tabungannya yang digunakan sebagai mutasi cashflow ybs di perusahaannya. kalo yang diomonginnya mengenai omset dan mutasi usahanya sesuai berarti apa yang diucapkannya bener. tapi jangan salah, laporan keuangan itu dibuat, masih bisa dibikin ato dibuat-buat kebenarannya. begitupun dengan mutasi rekening bank, masih bisa dibuat-buat (orang cuman tinggal setor tarik setor tarik dari bank biar mutasi debit kreditnya keliatan gede).

3. capital

capital ato modal ini menunjukan seberapa keseriusan si calon nasabah didalam menjalankan usahanya. usaha yang baik tentunya harus menyertakan modal lebih besar dari si ownernya dibandingkan dengan jumlah hutang yang dimillikinya. jadi ada rasio keuangan, namanya DER (debt equity ratio) yang nunjukin jumlah perbandingan antara modal dan hutang suatu perusahaan. jumlahnya kagak boleh lebih Dari 150%. selain itu ada juga yang namanya DAR (debt asset ratio) yang nunjukin komposisi asset dan hutang calon nasabah.

4. condition

condition ini biasanya menunjukan faktor-faktor luar yang bisa secara langsung mempengaruhi prospek usaha ybs. faktor ini bisa macem2, bisa merupakan keadaan ekonomi saat itu, faktor demografi, teknologi sosial atau budaya. contohnya, kalo lu mau biayaiin peternakan ayam pas lagi rame2nya flu burung bukan merupakan keputusan yang tepat, karena konisi luarnya orang lagi menghindari ayam, dan tu peternakan kalo ketularan flu burung bisa mokat semua ayamnya. otomatis kalo ayamnya mokat si nasabah buat bayar kewajiban kreditnya dari mana coba. nah itulah apa yang dinamakan dengan condition.

5. collateral

yang dimaksud dengan collateral adalah jaminan atau agunan. banyak trainer kredit bilan kalo agunan bukanlah hal yang utama. kalo kata gw sih ini ga kalah pentingnya sama karakter. karena saat usaha si nasabah kollaps atau bangkrut, lu cuman bisa melikuidasi agunan yang dia miliki untuk pembayaran utangnya. dan dalam hal ini pun analis kredit harus menaksir jaminan dengan nilai pasar yang sebenarnya, jangan sampai saat dilikuidasi ternyata nilai agunan lebih kecil dibandingkan dengan utang nasabahnya, bisa mokat dah tuh analis.

 

intinya, selama gw jadi analisi kredit, gw selalu menerapkan hal tersebut diatas, selain dilengkapi intuisi dan feeling tentunya.

lu mau cari nasabah kredit yang bener, semuanya keliatan kok saat lu memproses calon nasabahnya.

gw pribadi seh gak mau maen-maen didalam menganalisis kredit dan meloloskan calon nasabah kredit gw. bekerja dengan uang adalah tanggung jawab yang besar dan banyak godaannya, oleh karena itu saat gw dibilang kaku oleh atasan gw, gw ga ngerasa ga keberatan.

karena untuk menganalisa suatu usaha apakah layak diberikan kredit atau tidak bukanlah masalah yang gampang. lu harus bisa ngejamin si nasabah bakalan bayar hutangnya tepat waktu. lu harus monitoring semua usahanya selama dia masih menjadi nasabah pinjaman lu.

dan kalo lu ragu untuk ngasih kredit ke nasabah, maka jangan dikasih. untuk ngasih kredit ke nasabah gak boleh ada keragu-raguan didalamnya, lu harus 100% yakin ama keputusan lu.

makanya gw selalu beranggapan kalo uang yang gw kasih ke nasabah adalah uang diri gw sendiri, jadi musti bener-bener dipilih baik-baik nasabah yang berkualitas.

dari 33 nasabah yang gw miliki selama bekerja di kantor terakhir ini, alhamdullilah semuanya lancar dan gak memiliki masalah dalam pembayaran kewajiban utangnya dan itu sudah cukup bagi saya.

*anyway chapter jadi tukang kredit sudah lewat, dan saatnya mencari sesuatu yang baru